Agustus 07, 2008

Book Review: Bali Tanpa Bali

40 komentar

Judul: Bali Tanpa Bali
Penulis: Ibed Surgana Yuga
Penerbit: Panakom Publishing & Komunitas Kertas Budaya
Cetakan Pertama: 2008
Tebal: xvi + 164 hal.
ISBN: 978-979-1108-10-2

Preview Isi
Saya ingin memandang Bali …. Ah, jangan-jangan ini hanya kerinduan cengeng – sekaligus menjengkelkan – bagi orang seperti saya, yang terlempar atau melemparkan diri sejenak dari wilayah geografis Bali. Saya bisa saja sok-sokan bersikap, sambil berpretensi memandang Bali dari luar Bali, padahal jangan-jangan Bali sama sekali tidak meninggalkan segores bekas tipis pun dalam diri saya. Atau bisa jadi saya cemburu karena apa-apa yang menjadi "mainstream" di Bali tak mampu saya jangkau.

"Tajén", Orang Bali, "Calonarang"
Lalu orang Bali? Hanya menikmati kekalahan di antara gemuruh arena tajén (industri pariwisata Bali). Setelah menikmati hasil penjualan manuk-manuk, yang ternyata tak seberapa, orang Bali mulai merengek-rengek pada pihak penyelenggara tajén untuk bisa masuk ke sana lagi, menjadi pedagang asongan atau sekadar tukang pasang taji bagi manuk-manuk yang akan diadu. Orang Bali hanya menjadi abdi-abdi (untuk tidak menyebut "babu") yang – dengan senjata kain pel atau sapu – memberi service terbaik untuk kesuburan ruang-ruang kapitalis di natah orang Bali sendiri. Orang Bali kemudian memberhalakan ruang-ruang tersebut – ruang-ruang yang sebelumnya pernah mengalahkan mereka.

Kisah Perlawanan (yang "Tunduk") terhadap Adat Bali
Pada beberapa sisi, hukum adat dalam konstruksi masyarakat tradisi Bali kadang sangat kejam pada krama adatnya sendiri, namun luluh ketika dihadapkan dengan dunia luar, apalagi pada modernisme yang membawa industrialisasi – dan iming-iming materialisme, tentunya – sebagai anak kandungnya. Inilah yang menjadi inti kisah ironis dari Incest. Desa adat dengan kekuatan massa serta para pemucuknya sangat patuh terhadap awig-awig adat yang berlaku, demi memproteksi berbagai sisi kehidupan serta keberlangsungan hidup yang sejahtera bagi krama adat, serta menjaga keluhuran dan keajegan adat itu sendiri. Kepatuhan tersebut termasuk pada hal-hal yang – menurut pola pemikiran "masa kini" – "tidak relevan" lagi. Tidak mengherankan jika adat sering kali terlihat begitu kejam dan "tidak relevan" ketika menjatuhkan berbagai macam sanksi terhadap para krama-nya yang dianggap melanggar atau melawan awig-awig.

"Méru" Satpam
Sejarah polemik tentang "pelecehan" terhadap simbol-simbol yang dianggap suci dalam wilayah budaya dan agama Hindu Bali telah terbentang lumayan panjang. Beberapa yang pernah saya dengar, di antaranya kasus foto bola golf di atas canangsari, album Manusia Setengah Dewa Iwan Fals, sinetron Angling Darma, film Opera Jawa Garin Nugroho, penggunaan nama dewa dalam beberapa merek kendaraan bermotor, dan sebagainya. Menanggapi polemik seperti ini, orang Bali sendiri ada yang pro dan kontra. Ada yang beranggapan bahwa "pelecehan" semacam ini perlu "diberantas" semuanya. Yang lain mengklaim wacana seperti ini terlalu "nyinyir", bahkan dianggap terlalu mengeksklusifkan budaya dan agama Hindu Bali dari pergaulan budaya dan agama lain.

Cenk Blonk sebagai Simbol
Eksplorasi yang dilakukan Cenk Blonk tentu saja memunculkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, seperti "pengingkaran" terhadap pakem wayang kulit Bali. Dalam beberapa hal, rupanya Cenk Blonk memilih untuk mendobrak pakem-pakem tertentu guna meloloskan berbagai hasil eksplorasinya. Bagi saya, praktik "pengingkaran" pakem ini bukanlah perkara baru dalam ranah seni tradisi. Ini bahkan sering kali menjadi "keniscayaan" ketika sebuah genre seni berhadapan dengan produk-produk budaya lain yang menjadi tanda mutakhir zamannya. Di balik "pengingkaran" itu saya membaca suatu simbol bagi "pengingkaran pakem kehidupan" tradisi tertentu. Dalam tataran wacana, ini merupakan wacana bagi realita kehidupan aktual yang mesti "menengok kembali" berbagai "pakem kehidupan" yang telah mentradisi, di mana "pakem kehidupan" yang telah usang dan tidak relevan lagi bagi persaingan kehidupan kontemporer suatu zaman sudah waktunya untuk dimuseumkan atau diinterpretasi ulang. Ia hidup sebagai filter bagi pola laku dan pikir warisan tradisi, guna mengkonstruk lagi pola laku dan pikir yang up to date bagi zaman mutakhir.

Bahasa Bali yang Jauh
"Punapi gatra, Gus?" Duh! Tiba-tiba saya merasa asing dengan sapaan itu. Bukan saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi karena yang mengucapkannya adalah seorang teman akrab, walau telah beberapa tahun kami tidak berjumpa. Terhadap sapaan itu saya hanya menjawab, "Béh! Kéné-kéné dogén uli pidan. Sing taén berkembang." Ketika bertemu dan ia mengucapkan sapaan itu, saya merasa ada kadar yang berkurang pada keakraban persahabatan kami yang sudah bertahun-tahun berjalan. Padahal baru saja saya ingin menyambutnya dengan keakraban (baik dalam berbahasa maupun bersikap) yang biasa kami lakoni ketika sering bertemu dahulu. Percakapan demi percakapan terus berlangsung, dan ia tetap saja menggunakan basa Bali alus. Perlahan, bukan hanya kadar keakraban yang terasa memudar. Teman saya telah menjadi sosok asing di depan saya, seperti seseorang yang baru saja kenal dan entah datang dari mana.

"Nawegang antuk Linggih"
Dengan pemaknaan terhadap dua narasi sejarah yang berbeda (katakan saja demikian), keduanya memiliki dan mengamalkan pembenarannya masing-masing. Kedua narasi sejarah itu pun tak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia Bali karena keduanya merupakan lintasan sejarah yang membangun manusia Bali sekarang, terlepas dari seberapa besar perannya masing-masing. Masalah muncul ketika ada laku "pengkultusan" terhadap salah satu sistem yang dilakoni guna meraih status tertentu dalam konstelasi kehidupan sosiokultural dan sosioreligius, yang mana status tersebut mengandung prestise tertentu pula.

Orang Jembrana
Kisah "orang-orang terbuang" dan perambahan hutan di atas menambah ketegasan bahwa karakter keras dan kuat memang dimiliki oleh orang Jembrana, yang secara kesejarahan merupakan endapan dari karakter orangorang yang dicap pembangkang, penentang, pembelot, pemberontak. Lalu ditambah lagi dengan ritual perambahan hutan dalam membuka lahan tempat tinggal dan pertanian yang harus dilakoni dengan mengalahkan keangkuhan pohon-pohon besar, menaklukkan kebuasan dan keliaran rimba, merebut Jimbarwana. Semuanya memerlukan karakter fisik dan jiwa yang keras dan bedu.

Bali Tanpa Eksotika
Namun, ketika orang luar Bali kemudian memasuki lingkungan budaya orang Bali, yang melakukan penilaian terhadap kosmologi Bali, dan mengutarakan hasil pandangan atau penilaiannya itu kepada orang dalam atau luar Bali, mulailah lahir "Bali yang eksotis". Salah satu realisasinya adalah berbagai narasi tentang Bali dalam brosur-brosur pariwisata di luar negeri serta berbagai karya etnografi. Orang Bali kemudian terpengaruh oleh penilaian ini. Dalam bahasa saya, orang Bali "disadarkan untuk menilai" laku budayanya sendiri melalui kacamata lain, bukan kacamata yang sebelumnya digunakan sebagai "orang dalam yang taat". Orang Bali "disadarkan" bahwa Bali memiliki eksotika. Di sisi lain, "kesadaran" ini digunakan oleh pihak tertentu di Bali untuk menyulut semacam sikap "kebalian" (identitas?) bagi orang Bali sendiri. Dan sebagaimana yang kita lihat sekarang, banyak orang Bali yang gegap gempita, bahkan sesumbar, dengan "kebalian"-nya.

Menengok "Paon"
Dari ketiga jenis kehilangan itu, yang paling tidak bisa "ditemukan" lagi adalah kehilangan secara kultural. Walau kemungkinannya masih bisa, namun manusia-manusianya yang telah berpikiran modern tentu akan menganggap itu sebagai suatu kemunduran peradaban, tidak efisien, dan sebagainya. Kehilangan secara kebendaan sebenarnya masih bisa "ditemukan" lagi lewat museum-museum atau kolektor barang antik atau dari tinggalan-tinggalan leluhur yang glantak-glénték tak terhiraukan. Sedangkan kehilangan secara historis masih bisa didengar lewat cerita-cerita para orang tua atau tulisan-tulisan. Hanya saja, sekali lagi, sejarah itu tidak teralami lagi. Lalu, apakah ini sebuah kesalahan? Apakah ini suatu sikap yang tidak menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang? Saya selalu curiga terhadap klaim "tidak
menghargai" dan "tidak melestarikan" warisan nenek moyang. Jangan-jangan, anggapan ini lahir dari cara pandang yang keliru.

Kolektivitas Cap "Suryak Siu"
Di Bali saat ini, praktik suryak siu bukan hanya terjadi dalam skala kecil seperti pada kasus yang saya contohkan di awal tulisan ini. Ia tidak hanya bergerak pada lingkungan banjar saja, namun telah menjadi semacam gerakan menyeluruh masyarakat Bali. Kita lihat misalnya sekarang ini di Bali berkembang sebuah wacana tentang konsep identitas kebalian yang disebut Ajeg Bali. Ajeg Bali ini muncul dari figur yang "patut digugu dan ditiru". Entah siapa figurnya. Media massa lokal yang sekarang berkembang di Bali adalah salah satu "kulkul" yang menyuarakan wacana ini, untuk kemudian dilaksanakan oleh krama "banjar" Bali. Maka, jadilah segalanya sesuatunya seakan dilakukan demi Ajeg Bali, tanpa penelusuran lebih jauh tentang konsep macam apa sebenarnya Ajeg Bali itu. Inilah salah satu perilaku suryak siu yang sekarang tengah berkumandang di Bali. Sebagaimana perilaku suryak siu yang saya contohkan di awal tulisan ini, suryak siu krama "banjar" Bali ini pun memiliki dua posisi paradoks.

Humor di Pentas Seni Bali
Seakan ada semacam "tata hierarki peran" yang diberlakukan dalam dunia pentas ini, bahwa yang berhak berhumor-ria, ngaé bebaudan, ndagel di atas panggung hanyalah tokoh parekan, yang notabene adalah wakil dari wong cilik. Tokoh lainnya, apalagi berasal dari kelas atas, harus tampil agung, berwibawa, serem, aéng, serius. Ini barangkali lahir dari kondisi sosial, terutama dalam konstruksi masyarakat berstratifikasi, bahwa kalangan atas harus selalu tampil santun, formal, menjaga sikap, menjaga prestise sebagai kelas masyarakat terhormat, sebagaimana pengamatan Clifford Geertz dalam Negara Teater. Sedangkan rakyat kecil boleh berbuat dan ngomong seenak wudel.

Upacara, Mitos, Bali
Upacara di Bali terus berkembang hingga sampai pada satu titik di mana ia diposisikan sebagai semacam kewajiban bagi umat Hindu Bali. Agamalah yang melembagakannya sehingga posisi wajib ini tercapai. Maka jadilah semacam peraturan mutlak tentang upacara. Hari ini harus diadakan upacara ini dengan sesajen ini dan mantra ini serta dilakukan oleh ini. Hal ini bukanlah masalah ketika telah didasari oleh kesadaran yang saya uraikan di atas. Namun ketika kewajiban itu hanya dipandang sebagai kewajiban semata, tanpa dirunut kenapa ia diwajibkan, maka muncullah mitos baru tentang upacara, yang kemudian menjelma menjadi dasar pelaksanaan upacara. Landasannya di sini bukan lagi kesadaran berupacara. Segalanya berjalan sebagai suatu rutinitas kosong yang tentu saja kemudian hanya menghambur-hamburkan uang. Inilah suatu bentuk kebutaan dalam berupacara, suatu rutinitas ritual tanpa pemaknaan.

Eksotika yang Ajeg
(Jejak Kuasa dalam Politik Kebudayaan)
Wacana Sela I Ngurah Suryawan
Beragam fenomena yang terjadi di Bali pasca Bom Bali I dan II seolah menyiratkan munculnya kembali rasa sentimen kedaerahan, dan dalam hal ini ke-Bali-an berdasarkan agama Hindu. Dasar sentimen itulah yang menjadi benih dari gerakan-gerakan fundamentalis, seperti juga yang terjadi dalam agama Islam, Kristen, dan lainnya. Terorisme sebagai cermin fundamentalisme yang identik dengan Islam kini menemukan konteks dan makna baru di Bali, yaitu "teorisme budaya" dalam bentuk Ajeg Bali dan Ajeg Hindu

"Nak Bali Apa Sing Bisa Ngigel!"
"Orang Bali ya? Coba matanya digini-giniin," pinta seseorang kepada teman saya sambil menggerak-gerakkan bola matanya, bermaksud meniru sledétan penari Bali. "Saya enggak bisa nari," kata teman saya, seorang gadis Bali yang kini kuliah di Jogja. Lalu orang itu beralih pada saya. "Coba kamu," katanya meminta saya melakukan hal yang sama. "Saya lahir di Bali, tapi enggak bisa nari Bali," jawab saya. Orang itu terdiam sejenak. Ada keheranan di raut mukanya. Barangkali dalam hati ia berkata, "Kok ada, ya, orang Bali tidak bisa menari?"

Bali dan Tubuh Perempuan
Pada masa itu, figur perempuan Bali telanjang dada adalah gambaran dari kehidupan sosial pedesaan Bali. Barangkali kita bisa membaca bahwa di balik figur perempuan telanjang dada itu tercermin kepolosan, tradisi berbau tanah, kesederhanaan (atau penyikapan secara sederhana) budaya keseharian, atau bahkan kemiskinan (ekonomi). Mereka sangat jauh dari kebaya yang pada saat itu mulai dipandang sebagai salah satu bentuk kesopanan oleh kaum menengah ke atas yang mengenyam bangku sekolah. Dada perempuan ketika itu barangkali bukan suatu daya tarik seksual bagi laki-laki. Bukankah dengan demikian orang Bali zaman dulu bahkan lebih bisa menempatkan konteks seksual dalam kehidupan sehari-hari mereka? Telanjang bulat bersama di sungai barangkali bukan suatu suasana yang dapat menarik hasrat seksual.

Hari Raya yang Hilang
Ketika mulai tinggal di Jogja, tepatnya sejak pertengahan 2003, saya tidak punya hari raya lagi. Saya selalu bilang begitu pada teman-teman saya. Pernyataan ini memang ada nada bercanda, dan awalnya saya memang bermaksud bercanda. Namun sering kali teman-teman saya menanggapinya serius. Dan lebih sering lagi, saya sendiri yang menganggapnya serius karena bagaimana pun juga apa yang saya katakan itu, yang bagi beberapa orang yang taat agama adalah tabu, memang saya alami dan rasakan.

Menghidupi Seni Bali
Tidaklah mengherankan jika kemudian lahir masyarakat pendukung pada masing-masing produk seni. Dengan kata lain, muncul praktisi seni khusus untuk pariwisata, khusus festival, khusus partai politik tertentu dan sebagainya. Semuanya akan melahirkan kehidupan seni Bali yang spesifik, "produk seni kepentingan", yang – sekali lagi – lepas dari baik dan tidaknya kualitas masing-masing. Lalu, siapakah yang punya andil besar, siapakah yang berwenang, siapakah yang berjasa, siapakah yang idealnya menghidupi seni di Bali? Ternyata bukan jubelan pertanyaan ini yang mesti dijawab; namun untuk apa sebenarnya seni Bali dihidupi sekarang?

Dusun, Daun Pisang, HP
Mobil-mobil pick up itu masuk ke jalanan dusun yang sebelumnya belum tentu dijejaki ban mobil dalam sebulan sekali. Mereka "mengekspansi" dusun. Mereka merintis pengajaran "pengantar ilmu berdagang" kepada dusun. Mereka mengajarkan bagaimana persaingan pasar, bagaimana mengemas barang dagangan sehingga punya daya tawar – walau masih dalam taraf yang begitu sederhana. Mereka memberi "penyadaran" kepada orang dusun yang "terbelakang", bahwa di sekitarnya bergelimpangan berbagai potensi ekonomi yang seakan berebut mengacungkan tangannya, minta secepatnya diubah menjadi uang. Mereka mengajar dusun untuk mengukur segala sesuatunya dengan rupiah. Mereka mengajar dusun menjadi "materialistis".

Rare Angon
Ah, itu hanya sebuah dongeng. Barangkali ia tak perlu bahasan seruwet yang saya lakukan di atas. Dongeng hanya imajinasi dari ruang "dahulu kala" yang kabur. Hanya kisah pengantar tidur yang dipuja-puja ketika kanak-kanak, perlahan dilupakan ketika remaja, kadang dikenang ketika dewasa, dan tak pernah diceritakan lagi kepada cucu ketika usia tua. Dongeng adalah masa kanak-kanak yang penuh "kebohongan". Tapi, masa kanak-kanak kita belajar dari "kebohongan" itu – walau kemudian disangkal di masa-masa selanjutnya. Konon, "kebohongan" itu penuh dengan ajaran-ajaran tentang kebajikan. Di sana, dalam dongeng itu, kanak-kanak kita menjelajahi kompleksitas kehidupan melalui "dunia lain".

Telanjang
Budaya Bali, hingga sekarang, masih menyisakan karakter telanjang, baik secara fisik maupun filosofis. Perlu cara pandang tertentu untuk meniliknya. Kemiskinan dan iklim yang sering dijadikan asalan kenapa perempuan-perempuan Bali dahulu telanjang dada dalam kesehariannya agaknya harus dipandang dengan cara yang berbeda agar tak melulu berhenti pada taraf alasan. Kemiskinan dan iklim mestinya dipandang sebagai keniscayaan alam dan sosial yang kemudian membentuk konstruksi budaya Bali. Tak perlu ada semacam permakluman dalam hal ini. Sebab kalau memposisikannya sebagai permakluman, kita tengah terjebak ke dalam pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses panjang pembentukan budaya Bali. Sekali lagi, mesti diakui sebagai keniscayaan. Bukankah kita tidak pernah bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita?

Pentas Itu Bernama "Tajén"
Dalam satu segi tajén punya persamaan dengan upacara-upacara yang dilakoni oleh orang Hindu Bali. Keduanya sama-sama merupakan "kesekejapan" yang teaterikal. "Kesekejapan" muncul ketika peristiwanya berlangsung, ketika eksekusinya. Sebagaimana menyiapkan sarana upacara, ayam jantan disiapkan dengan begitu tekun oleh bebotoh. Segalanya diperhitungkan dengan teliti: melik, kebugaran fisik, déwasa yang baik untuk mengadu, serta dengan ayam jago macam apa ia harus diadu, dan sebagainya. Pokoknya, bebotoh begitu meting-meting ayam jagonya agar bisa mapalu dengan tangkas di arena tajén. Hingga tiba saatnya ia diadu, dan hanya ada kemungkinan menang dan kalah. Setelah itu, selesai. Begitu sekejap. Peristiwanya tidak bisa diulang. Jika kalah, ia mati dan jadi bé cundang. Jika menang, ia harus dipersiapkan sedemikian rupa lagi, dengan perhitungan yang pelik, untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Tajén memang sebuah upacara.

Memupuk Pohon Mitos
Justru semakin banyaknya orang yang berpikiran modern dan individualis itulah yang kian menyuburkan pohon mitos. Lahirnya berbagai interpretasi dari orang-orang yang berpikiran modern merupakan satu penyebab kerindangan tersendiri karena tidak pernah ada massa yang menyatakan persetujuan secara bersama terhadap hasil interpretasi itu. Ia (interpretasi itu) hanya menemukan persetujuannya dalam pola pikir interpretatornya sendiri. Inilah ciri pemikiran modern yang individualis. Interpretasi-interpretasi itu berkumpul jadi satu – tanpa menemukan banyak pendukung, dan jarang bisa disamakan – menciptakan kerindangan yang hebat pada pohon mitos. Hal ini belum lagi ditambah oleh penalaran fundamentalis terhadap mitos serta berbagai interpretasi yang menggunakan pemikiran di luar modern.

Nyepi Kampus
Nyepi Kampus barangkali meniru penyelenggaraan acara Dharma Santi Nasional yang biasanya diselenggarakan setelah Nyepi. Beberapa kali memang Nyepi Kampus di kampus saya membawa embel-embel "Dharma Santi Kampus". Apa tujuan penyelenggaraan Dharma Santi Nasional, yang biasanya dihadiri presiden dan pejabat negara lainnya itu, saya tidak tahu persis. Namun dalam sambutannya pada Dharma Santi Nasional dalam rangka Nyepi Saka 1929, Pak Presiden SBY menyatakan, Dharma Santi Nasional sebagai wujud silaturahmi umat Hindu bertujuan untuk memuliakan mahluk hidup dan meningkatkan kesetiakawanan sosial. Rupanya, 24 jam dalam Nyepi yang sepi di luar dan riuh di dalam itu belum cukup untuk sekadar mewujudkan kesadaran untuk bersilaturahmi, bahkan antarumat Hindu sendiri, sehingga acara seremonial (!) semacam Dharma Santi Nasional perlu diadakan. Dan acara seremonial yang melibatkan pejabat biasanya jauh dari jangkauan masyarakat biasa (baca: umat).

"Gesah" PKB
Pesta Kesenian Bali (PKB) tidak habis dibicarakan. Dan sepertinya akan selalu begitu. Pembicaraan tentangnya bukan sekadar warna atau bumbu di antara setiap tahun penyelenggaraannya, di antara sekian banyak macam kesenian yang dipestakannya. Kalau mau mempertahankan eksistensi PKB, salah satunya, ya, dia harus dibicarakan. Diwacanakan. Terus-menerus. Tidak peduli wacana yang positif atau negatif, membangun atau tidak, memuja atau memaki. Yang penting wacana, kritik, gesah. Dua macam wacana yang paradoks akan sama derajatnya dalam menunjang eksistensi PKB. Layaknya selebriti layar kaca, ia akan makin tenar dan dicari karena gemilang dalam bermain sinetron maupun gemilang dalam berselingkuh. Itulah ajaibnya dunia wacana. (Tapi ingat, PKB bukanlah pemain sinetron!)

PAST
Dalam hemat saya, keberadaan PAST di Jembrana pada satu sisi memikul tanggung jawab – walau secara formal tidak ada yang memberinya tanggung jawab – bagi terciptanya kehidupan yang kondusif bagi seni kontemporer pada umumnya, sastra dan teater pada khususnya. Jembrana – yang konon – sebagai salah satu barometer kehidupan sastra dan teater kontemporer di Bali mesti dibuktikan dalam tataran praksis, bukan hanya dalam wacana. Di sisi lain, ada semacam ketakutan eksistensial yang melingkupi PAST. Ia menjelma dari (bayang-bayang) narasi kebesaran masa lalu tentang eksistensi seni kontemporer (atau sering disebut: modern) yang pernah hidup di Jembrana. Ketakutan ini bisa jadi merupakan ketakutan menjadi kecil, hilang atau gagal menyambung tali dengan sejarah masa lalu. Wacana yang mencuat tentang kebesaran masa lalu, di samping merupakan pembuktian tentang akar yang kokoh, secara ironis sebenarnya juga menjadi retorika nostalgik di tengah kondisi mutakhir yang barangkali sedang tidak kondusif, mandeg, fakum atau mati suri.

Bali Tanpa Bali
Proyektor itu memantulkan gambar idoep ke selembar kain putih sekitar 2 X 3 meter yang tertempel di tembok. Frame demi frame gambar beringsutan selama kurang-lebih lima puluh menit di sana, mendongeng tentang hamparan sosiokultural sebuah wilayah di Bali. Namun di sana hampir tidak bisa ditemukan gambaran tentang Bali sebagaimana yang ditemui di televisi atau brosur pariwisata. Hanya beberapa detik saja melintas foto penari legong, figur gadis Bali tempo dulu yang telanjang dada, serta bangunan pura. Selebihnya adalah gambaran sepasang kerbau yang lari dengan beringas dalam makepung; tangkas para penabuh jegog; kendang raksasa dalam gamelan kendang mabarung; penari pencak silat yang berkostum mirip pemain stambul; penari leko yang sekilas tampak cuma meniru kostum penari legong; para nelayan Slam di daerah pesisir Jembrana; orang mengambil wudhu dan shalat; kebaktian di gereja yang diikuti para jemaah berpakaian adat Bali; khotbah pendeta ber-basa Bali alus, dengan beberapa kali ucapan puja kepada Sang Hyang Yesus Kristus; rumah panggung Melayu-Bugis; orang-orang yang berbicara dengan "bahasa aneh" – campuran bahasa Bali, Melayu dan Jawa; anak-anak muda latihan teater kontemporer dan musik puisi; berita-berita tentang berbagai kegiatan seni kontemporer; dan sebagainya yang jauh dari gambaran (stereotip) tentang Bali.
Pertama kali dipublikasikan oleh penulisnya sendiri di www.ibedbilabali.blogspot.com

Ketika Kedamaian Terkoyak

24 komentar
Mengapa masih ada jerit tangis yang merobek telinga
Mengapa masih ada perang yang seharusnya tinggal cerita
Apakah nurani telah pergi dan putihnya hati tak mampu hapuskan gelap ini, dimana cinta….
Asap-asap menghitam, semakin hitam mengisi jiwa-jiwa yang kelam
Desing dan dentum meriam menjadi alasan untuk ungkap yang tak pernah padam
Kita disini menjadi saksi tentang semua ini
Lelah menahan perih dibatin ini tolong cepat hentikan
Tak bisakah mencoba tuk berdiri bersama dan rasakanlah hangatnya jiwa dalam balutan indahnya cinta
Tak inginkah lihat senyum diwajah mereka
Bukan semua yang menjadi luka disetiap deru nafas mereka
Jangan lagi kau timpakan
Biarkan damai menjadi raja resapi relung hati manusia
Dengar kami yang tak inginkan derita ini menjadi pengantar tidur kami melekat disetiap mimpi-mimpi
(Dimana Cinta, TIPE-X)


Lirik diatas adalah lirik lagu yang dibawakan dan dipopulerkan oleh TIPE-X, group band yang muncul diakhir era 90an beraliran SKA dan cukup digandrungi oleh khalayak hingga kini. Judul tulisan ini aku kutip dari tema blognya Bung Enhal, blog yang cukup lantang menyuarakan kedamaian yang selama ini terkoyak. Tulisan ini mencoba sedikit mengelaborasi tentang kedamaian yang terkoyak atau dikoyak, kedamaian yang menjadi tujuan setiap manusia yang hidup di dunia ini, asa yang dinanti oleh setiap insan. Kedamaian yang diajarkan dan dianjurkan oleh setiap agama, tetapi kini, atas nama agama kedamaian itu dikoyak oleh orang yang mengaku beragama serta memupus asa insan yang menantinnya. "Apakah nurani telah pergi dan putihnya hati tak mampu hapuskan gelap ini, dimana cinta..?" ataukah "asap-asap menghitam, semakin hitam mengisi jiwa-jiwa yang kelam"
Entah apa yang ada dalam benak saudara-saudara kita yang melakukan tindak kekerasan dalam menyikapi Ahmadiyah. Diatas sajadah amarah; seperti itu aku menggambarkan tindakan saudara-saudaraku yang melakukan tindak anarkisme dalam menyikapi Ahmadiyah, tangan kiri dililit tasbih, kepala dibalut sorban tetapi tangan kanan membawa pentungan, bibir mereka dibasahi dengan ayat-ayat kebencian. Seperti itulah Islam mengajarkan? Sebenarnya aku malas membahas mana yang benar dan salah, aku takut jika aku yang merasa benar ternyata aku salah. Setahuku Islam adalah agama yang damai, agama yang mengajarkan kasih sayang, tetapi mengapa Islam bermandikan anarkisme?
Anarkisme bukanlah alternative satu-satunya, apalagi yang terbaik. Islam telah mengajarkan kepada penganutnya kasih sayang, tetapi mengapa masih ada Anarkisme? Entahlah, mungkin mereka punya persfektif sendiri dalam menyikapi Ahmadiyah. Dalam QS. Annahl ayat 125, telah jelas disebutkan, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana cara menyikapi saudara yang tidak sependapat dengan kita yaitu dengan cara yang hiikmah dan pelajaran yang baik, bukan dengan anarkisme.
Sungguh suatu ironi ketika kita mengagung-agungkan ayat Al-Qur'an tetapi disatu sisi kita malah tidak melaksanakan apa yang telah digariskan dalam Al-Qur'an. Perih rasa hati ini melihat Masjid, sekolah dan tempat tinggal milik Jamaah Ahmadiyah dirusak oleh mereka yang masih bersaudara. Sungguh sangat jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Allah melalui Muhammad, dahulu semasa kejayaan Islam, jangankan merusak Masjid, sekolah dan rumah tinggal milik sesama muslim, rumah ibadah, sekolah dan rumah tinggal orang non muslim pun dilarang untuk dihancurkan, sekarang malah sebaliknya! Bagaimana jadinya jika Masjid yang merupakan "tempat tinggal Tuhan" dibakar, Sekolah sebagai tempat memanusiakan manusia, mengajarkan keagungan Tuhan harus dirusak dan rumah tinggal yang merupakan surga bagi kita "baiti jannati", runtuh akibat egoisme semata.
Sebenarnya aku tidak benci dengan saudara-saudaraku yang telah melakukan tindak anarkisme teatpi aku juga bukan penganut Ahmadiyah. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang mencoba untuk lebih mengetahui dan merasakan keagungan Islam, boleh dikata aku hanya sekedar "menyeruput" luasnya ajaran agama. Mengapa kita harus bertarung dengan sudara kita sendiri, saling sesat menyesatkan, akfir mengkafirkan? Tak adakah pekerjaan atau amalan yang lebih baik untuk masyarakat kita selain kafir mengkafirkan, setidaknya bermanfaat untuk kita sendiri dan keluarga? Sudah lama kita dihipnotis untuk saling menhujat, sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan, kini saatnya kita bangkit membenahi tatanan negeri ini yang sedang karut marut, sadarkah kita sedang diadu? Karena klik terlemah untuk menghancurkan persatuan kita adalah dengan memantik isu SARA. Musuh kita nyata, apa itu? Kemiskinan, ketertindasan dan keterhisapan! Sadarkah kita, telah sekian lama dimiskinkan, ditindas dan dihisap oleh antek-antek kapitalisme dan feodalisme yang dikangkangi oleh Imperialisme? Sekali lagi, musuh kita nyata; imperialisme, kapitalisme dan feodalisme. Kita disibukkan oleh mereka untuk saling kafir mengkafirkan sehingga kita lupa siapa musuh kita yang sebenarnya. Agama itu candu yang membuat kita ketagihan untuk berlawan menghajar Imperialisme, kapitalisme dan feodalisme yang menyebabkan kita termiskinkan, tertindas dan terhisap. Agama itu bukan candu yang membuat kita lupa mana saudara kita dan mana musuh kita!
Rasulullah SAW diturunkan di muka bumi ini untuk menghancurkan Kapitalisme, Feodalisme dan Imperialisme. Beliau rela dikucilkan deni menhancurkan budaya feodalisme yang menjadi-jadi saat itu, Beliau rela dilempari dan diludahi demi menghancurkan kapitalisme, mengapa, karena dalam Islam kapitalisme itu sangat merugikan. Islam melarang kepemilikan individual, zakat adalah contoh nyata Islam anti Kapitalisme. Beliau juga dengan tegar memanggul senjata untuk ikut mengusir kekuatan-kekuatan Imperialis yang ingin menjajah fisik dan pikirannya. Sudah tiba saatnya kita mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan Rakyat, bukan zamannya lagi kita saling sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan, kini saatnya kita bergandengan tangan, berjalan beriringan dan mengepalkan tinju untuk menghancurkan Imperialisme, kapitalisme dan feodalisme.
Sekali lagi, agama adalah candu yang membuat kita selalu berlawan dan terus berlawan menghancurkan ketertindasan dan keterhisapan. Al-qur'an berisi setumpuk mesiu perlawanan dan agama adalah senjatanya, Sajadah seharusnya bermandikan darah dan keringat perjuangan untuk membela mereka yang tertindas dan terhisap bukan ternodai oleh darah saudara kita sendiri.

Agustus 03, 2008

Krisis Umum Imperialisme, Kenaikan Harga BBM dan Hancurnya Penghidupan Massa Rakyat Secara Luas (Analisa Tentang Perkembangan Situasi Umum)

26 komentar

Rejim SBY-JK sekali lagi telah menunjukkan watak aslinya sebagai penguasa yang tidak akan pernah berpihak terhadap kepentingan rakyat. Tidak dapat lagi dipungkiri, kenaikan harga BBM bersubsidi pada 23 Mei 2008 –yang ketiga kalinya dalam masa pemerintahan SBY-JK – semakin mempertegas sekaligus bukti nyata bahwa SBY-JK hanyalah rejim boneka imperialisme yang akan selalu mengiyakan seluruh kemauan dan keinginan tuan imperialis-nya tanpa harus memikirkan penghidupan rakyat Indonesia. Sikap keras kepala juga ditunjukkan oleh rejim SBY-JK yang tidak mau peduli dan menutup telinga atas suara rakyat yang memekik berteriak menyatakan keberatan atas kebijakan kenaikan harga BBM. Aspirasi massa rakyat yang disampaikan melalui unjuk rasa diseluruh penjuru negeri hanya seperti angin lalu bagi SBY-JK yang tetap pada pendiriannya untuk menaikkan harga BBM. Bahkan tidak sedikit aksi-aksi massa rakyat, terutama yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat reaksi keras dari aparat kepolisian, mulai dari pukulan, tendangan hingga penangkapan.

Krisis Umum Imperialisme Semakin Akut
Harga minyak dunia sampai hari ini masih bertahan di level US $ 136 per barrel dan masih mungkin akan terus bergerak naik. Kontradiksi antar negeri negeri imperialis semakin memperlihatkan bagaimana upaya mereka dalam bersaing memperebutkan sumber-sumber energi. Persaingan ini juga meluas pada upaya perebutan perdagangan komoditas pangan, persaingan politik hingga masalah kemiliteran.
Perang untuk memperebutkan sumber- sumber minyak yang dilancarkan ke Irak dan perang mandat di Timur Tengah semakin melemahkan kepercayaan dunia terhadap Amerika Serikat sebagai pimpinan imperialis dan semakin membuka mata dunia bahwa teroris dunia adalah AS sendiri. Upaya-upaya blockade ekonomi—terutama menyangkut pasokan minyak—yang dilakukan Chaves di Amerika Latin dan Ahmadinedjad di Iran (dengan hanya menerima pembelian minyak menggunakan mata uang Euro) telah membuat AS kepanasan karena mata uang dollar semakin melemah dan dapat berakibat pada hancurnya perekonomian AS.
Keterpurukan yang dialami AS akibat kredit macet perumahan (subprime mortgage) telah memaksa Bank Central AS (Federal Reserve/The Fed) menurunkan tingkat suku bunga sampai 2% dengan harapan daya beli masyarakat terhadap komoditi dapat bergairah kembali dan meningkatkan investasi di AS sehingga menambah pendapatan domestik AS. Minyak kemudian menjadi pilihan terbaik untuk diperdagangkan di pasar saham internasional. Akan tetapi, hal ini belum memberikan hasil optimal bagi AS dikarenakan ketidakstabilan harga minyak dunia akibat spekulan-spekulan yang memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga minyak dan menahan pelepasan cadangan minyak yang membuat harga minyak melambung tinggi.
Di samping itu, mereka memaksa negeri-negeri bergantung/negara jajahan dan setengah jajahan untuk menyesuaikan harga minyak di dalam negerinya dengan standar harga dunia yang di monopoli imperialis AS tanpa mempertimbangkan pendapatan per kapita negara sedangkan keuntungan yang diperoleh sama sekali tidak dirasakan oleh negara penghasil minyak tersebut. Dan sekali lagi hal ini tentu mendatangkan protes rakyat dari Negara penghasil minyak yang sumber tambangnya di monopoli oleh imperialis. Akibat melambungnya harga minyak dunia semakin mempertajam kontradiksi rakyat di negeri jajahan dan setengah jajahan dengan imperialis serta semakin mengkuliti kebobrokan imperialis terhadap krisis ditubuhnya. Hal ini coba diredam dengan berbagai cara mulai dari mengadakan pertemuan negara-negara G8 yang membahas tentang ekonomi, pasar, keamanan dan politik untuk menanggulangi krisis untuk meredam gejolak perlawanan rakyat di berbagai negeri. PBB pun melakukan kegiatan amal yang kemudian memaksa negaranegara sedang berkembang mengikuti skema ekonomi politik mereka dan terakhir adalah melakukan pertemuan membahas international security. Beberapa perkembangan terakhir, akan ada latihan bersama antara Australia dan Indonesia. Kita tahu Australia adalah negara satelit AS. Pertemuan yang di selenggarakan itu bukan mengupayakan menanggulangi krisis energi yang terjadi dan berkelanjutan ini tapi sebuah skema untuk meredam gejolak perlawanan rakyat seluruh dunia yang melakukan protes terhadap kenaikan harga minyak dunia. Upaya yang dilakukan untuk menormalkan harga minyak dunia seperti meningkatkan produksi minyak di Arab Saudi, buktinya penambahan produksi dari Arab Saudi sebesar 200.000 ribu barrel per hari (bph) ternyata tidak banyak mempengaruhi lonjakan minyak dunia yang semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa para spekulan yang memonopoli minyak masih terus mempertahankan situasi ini dan hanya dengan perlawanan rakyat yang mampu menanggulangi krisis ini. Tidak hanya Indonesia yang menggelorakan semangat perjuangan menolak kenaikan harga minyak namun di berbagai penjuru negeri juga mengadakan aksi menentang kenaikan harga minyak dunia.
Ribuan pekerja di Korea Selatan mengadakan aksi besar menolak kenaikan harga minyak karena dampak yang di dapatkan dari kenaikan harga minyak yaitu adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena biaya produksi meningkat akibat kenaikan minyak dunia. Rakyat di negara tetangga kita Malaysia juga mengadakan aksi protes atas dampak kenaikan harga minyak dunia yang membuat beban hidup juga semakin bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh rakyat dunia melakukan kampanye massa untuk menolak kenaikan harga minyak dunia. Dan semua semakin terlihat bahwa imperialis semakin merosot dan jatuh dalam jurang penghancuran karena bangkitnya perlawanan rakyat dimana-mana. Namun kebangkitan gerakan rakyat secara luas terutama di negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan harus disertai gerakan klas buruh di negeri-negeri imperialis atau pusatpusat kapitalis monopoli dunia saat ini untuk mempercepat kepergian imperialisme ke alam baka-nya. Inilah hal yang harus segera dipecahkan oleh seluruh gerakan rakyat di dunia yang berjuang untuk membebaskan diri dari dominasi imperialisme modern dan sisa system ekonomi lama yang menopangnya.

Kenaikan Harga BBM dan Kemelaratan Massa Rakyat Secara Luas
Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi rata-rata 30% pada pertengahan bulan Mei kemarin dipastikan semakin memukul penghidupan rakyat Indonesia. Semua orang jelas memahami bahwa BBM memegang peranan vital dalam setiap proses produksi hingga distribusi. Naiknya harga BBM akan memicu kenaikan seluruh harga bahan kebutuhan lainnya terutama harga-harga barang kebutuhan pokok.
Dampak negatif dari kenaikan harga BBM sangat jelas akan memukul penghidupan rakyat Indonesia yang secara mayoritas dihuni oleh klas buruh dan kaum tani. Jika sebelum kenaikan harga BBM dua sector ini telah merasakan hantaman akibat naiknya harga kebutuhan pokok yang menjerat leher, ditambah dengan kebijakan kenaikan harga BBM oleh SBYJK tentu akan membuat nasib kelompok masyarakt ini terpuruk kedalam jurang penderitaan yang begitu dalam.
Menurunnya derajat hidup masyarakat tidak pernah mampu mengetuk hati rejim SBYJK yang benar-benar keras kepala. Untuk memperkuat posisi kekuasaannya, berbagai cara dan alasan dikemukakan sebagai tameng tebal yang dapat melindungi dirinya dari gelombang perlawanan rakyat.\ Berbagai upaya mulai dari yang lunak hingga paling keras dipamerkan SBY-JK untuk meredam amarah rakyat yang tengah mengarah kepada dirinya. Berbagai upaya tersebut adalah ; melalui program Low Intensification Conflict (program BLT, BKM, Kredit, dan kompensasi lainnya). Namun, program ini tidak akan sanggup bertahan lama dikarenakan kebutuhan rakyat yang semakin tinggi tidak pernah diikuti oleh upaya menaikkan upah dan jaminan kesejahteraan bagi buruh. Di pedesaan, program BLT juga tidak akan mempunyai signifikansi apapun terhadap perbaikan nasib kaum tani yang selain berhadapan dengan naiknya harga kebutuhan pokok juga tengah menghadapi sengketa tanah dan praktek riba para tengkulak.
Pemerintah jelas-jelas tidak pernah belajar dari pengalaman. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) jelas bukan satu jawaban atas kenaikan harga BBM. Pemerintah mungkin lupa, bahwa setelah kenaikan harga BBM jumlah angka kemiskinan dan pengangguran pasti akan meningkat dengan cepat. Mereka yang menjadi miskin akibat kenaikan harga BBM belum dihitung oleh pemerintah sebagai sasaran penerima BLT karena data yang digunakan masih mengacu pada data yang lama. Disisi lain, pengalaman penyaluran BLT pada tahun-tahun sebelumnya banyak disalahgunakan dan tidak tepat pada sasaran. Sehingga BLT bukanlah solusi, karena tidak akan sanggup menjawab permasalahan ekonomi yang dihadapi rakyat dan hanya sebuah taktik murahan SBY-JK yangberusaha Menebar simpatik terhadap rakyat untuk kepentingan politiknya di tahun 2009.
Program anyar juga diluncurkan dalam kenaikan harga BBM kali ini. Program ini bernama Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM), diberikan sebesar Rp. 500.000 per semester kepada kurang lebih 400.000 mahasiswa di seluruh PTN dan PTS di Indonesia. Seperti halnya BLT, program BKM ini tentu tidak akan sanggup menyelesaikan persoalan naiknya biaya pendidikan akibat kenaikan harga BBM. Bahkan indikasi yang berkembang, program ini adalah upaya suap atau tutup mulut yang dilakukan oleh SBY-JK terhadap aspirasi kritis mahasiswa sekaligus untuk meredam aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM yang mulai bergema serentak diseluruh negeri ketika kenaikan harga BBM diumumkan 23 Mei 2008.
Bagi buruh, kenaikan harga BBM tentu akan sangat memberatkan. Pertama, mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk transportasi menuju tempat bekerja karena angkutan umum telah menaikkan ongkos untuk menutup setorannya. Kedua, mereka terpaksa harus kembali ”mengencangkan ikat pinggang” karena harga bahan pokok semakin naik sedangkan upah mereka tidak pernah bergerak naik. Selanjutnya, naiknya harga BBM pasti memperbesar ongkos produksi dalam satu perusahaan. Bagi pengusaha, pilihan yang mungkin diambil adalah mengurangi jumlah pekerja (PHK) atau melipatgandakan produksi dengan memaksa buruh bekerja lebih lama agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang besar tanpa memperhatikan kesejahteraan buruh. Disini nampak begitu jelas bahwa buruh sangat terancam penghidupannya serta seluruh keluarganya dan mendapatkan kerugian terdalam akibat kenaikan harga BBM.
Bagi kaum tani, terutama yang tidak memiliki tanah dan bekerja sebagai buruh tani pada tuan-tuan tanah juga akan merasakan hal serupa. Biaya produksi, khususnya terkait dengan distribusi benih, pupuk dan obat untuk pertanian pasti akan bergerak naik. Sehingga dalam satu kali proses produksi (mulai tanam hingga panen) ongkos produksi yang dikeluarkan pasti akan semakin mahal. Disisi lain, hasil pertanian kaum tani masih saja dihargai dengan harga yang rendah. Bisa dipastikan, kerugian akan menjadi ancaman bagi kaum tani diseluruh negeri. Derita ini tentu saja akan semakin bertambah karena harga barang kebutuhan pokok juga beranjak naik dan semakin menurunkan daya beli mereka serta memaksa kaum tani hidup dalam keterpurukan.
Pemuda mahasiswa juga menghadapi ancaman serupa yang dialami oleh kaum buruh dan tani. Lapangan pekerjaan bagi pemuda tentu akan semakin sulit didapatkan karena dalam perkembangannya banyak perusahaan yang justru mengurangi jumlah karyawan dan membatasi penerimaan karyawan baru. Ini tentu saja akan semakin memperbesar angka pengangguran di Indonesia. LIPI memperkirakan, angka jumlah pengangguran akan mencapai 16 juta orang akibat kenaikan harga BBM kali ini. Mahasiswa dan pelajar tentu juga akan menghadapi hal yang sama. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan bisa dipastikan naik seiring dengan naiknya harga BBM. Harga buku, peralatan laboratorium dan peralatan praktek lain akan semakin mahal. Disisi lain, alokasi anggaran pendidikan yang diberikan oleh pemerintah tidak pernah dinaikkan bahkan tahun ini sampai harus dipotong dengan alasan untuk menutup defisit APBN.
Hal tersebut tentu saja akan membuat biaya pendidikan melonjak, sehingga bisa dipastikan jumlah anak putus sekolah dan jumlah buta aksara semakin tinggi sehingga program 12 tahun sekolah serta pemberantasan buta aksara gagal terlaksana, semakin banyak lulusan SMA atau yang sederajat tidak bisa mengecap bangku perguruan tinggi sekaligus ancaman terhadap mahasiswa yang terpaksa putus kuliah karena tidak sanggup lagi membayar beban tinggi pendidikan. Padahal kita semua mengetahui, bahwa hanya dengan pendidikan-lah taraf berpikir dan tingkat kebudayaan manusia dapat berkembang. Jika pendidikan kemudian tidak lagi mudah diakses karena biaya yang mahal tentu saja ini adalah ancaman penghancuran masa depan bangsa secara sistematis oleh negara.
Pun demikian bagi kaum miskin perkotaan, kenaikan harga BBM tidak akan pernah membuat hidup mereka sejahtera. Naiknya harga bahan pokok dipastikan menjadi ancaman besar yang dapat menentukan hidup mati mereka. Bagi kaum perempuan, beban ekonomi keluarga akan semakin menghimpit ditengah naiknya harga kebutuhan bahan pokok, karena selama ini kaum perempuan-lah yang banyak berperan dalam mengatur ekonomi keluarga. Bagaimana kaum perempuan harus bekerja lebih keras untuk mengatur pemenuhan sandang dan pangan bagi keluarga serta mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik agar kebutuhan di dapur, pendidikan sekolah anak, kesehatan tetap bisa dipenuhi.
*****
Jika Anda berminat untuk membaca selengkapnya, anda bisa mendapatkan atau berlangganan bulletin GELORA dapat menghubungi alamat redaksi, dengan memesan via email atau datang langsung ke alamat redaksi. Bulletin GELORA juga bisa didapatkan di FMN cabang atau kampus terdekat. Untuk berlangganan silahkan redaksi bulletin GELORA :
Redaksi Buletin GELORA
Kp. Jawa Rawasari Gg. J, RT 11 RW 09 No. 34 B
Cempaka Putih-Jakarta Pusat
Telp. : 0878 8000 1901 (Ridwan Lukman)
Email : gelorafmn@gmail.com