April 15, 2011

Hanya Ucapan Terimakasih Untukmu...



Bukan, Bukan Aku mengabaikanmu
Sungguh, relung hati ini penuh namamu
Iya, kau masih kusimpan dalam hatiku
Enggan menaruh di nomor tiga
Dengan bangga kau kuberi nomor dua

Mungkin aku lupa ketika kau peluk aku dengan selaput itu
Atau aku belum mampu memahami pelukan itu
Yang jelas kunikmati lendir kehidupan darimu

Entah, gua itu merontokkan imaji tentangmu
Atau semburat cahaya dunia melenakkan aku
Yang pasti tetap kunikmati tetesan hangat kehidupan darimu

April 13, 2011

Titik Balik, Semoga!


Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
[QS. Al-An’am:75]

Akhir-akhir ini, kepala saya sedang dipenuhi dengan konsepsi tentang Tuhan, Tuhan, Tuhan dan Tuhan, hanya itu yang ada dalam kepala saya.

Sekitar lima tahun kebelakang, saya berkesimpulan, Tuhan dan Agama hanya konstruksi yang telah dibuat oleh masyarakat untuk mengalihkan ‘kelemahan’ mereka. Segaris dengan apa yang pernah di paparkan oleh V.I. Lenin dalam Collected Works, “Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta yang sejenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian”.

April 09, 2011

Surat Cinta Itu


Sumber gambar
Setelah subuh, kudengar syair cinta
Menghalau kantuk, mendesir dalam dada
Kalut degup berontak jiwa
Coba kudengar, resapi dan ku eja

Mengapa masih saja kudengar
Meski datar, membuatku bergetar
Mungkin ini yang namanya tersadar
Menelusuk bagai cahaya yang terpendar

Kulihat surat cinta itu
Huruf tertata menyatu
Membentuk bangun bait menjadi satu
Syair cinta indah menjadi pemicu
Tetap indah meski bertalu-talu

April 05, 2011

Dimanakah Engkau Berada?

Sumber gambar
Dibawah kaki langit, semburat sinar temaram cahaya hati; redup redam dan terang kembali, memberi tanda akan kegundahan dan kegalauan. Riuh rendah bunyi binatang malam menambah suasana syahdu nan rindu jiwa.
Belaian semilir angin malam tak mampu melenakan dan membuatku lelap dalam tidur indah; meraih mimpi. Bumi menggelar kehangatannya untuk menyambut kantuk yang menggelayut, langit pun tak mau kalah; membacakan dongeng bintang dan selaksa isi langit agar aku rebah dipelukannya.
Rayuan gombal bumi dan langit tak kuasa melenakanku, mungkin bumi dan langit tidak tahu kalau hanya getar cinta yang kuasa melenakan aku atau mereka enggan mengetahui penyebab terlenanya diriku, yang jelas semakin larut dan semakin kelam malam ini tak kuasa jua menina bobokkan aku.