Maret 01, 2011

Antara Sepak dan Sempak

“Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tak mengambil apapun kecuali dari dirinya sendiri…
cinta tiada memiliki pun tiada ingin dimilki: Karena cinta telah cukup bagi cinta”
(Kahlil Gibran)
Maaf, hari ini saya malas sekali untuk membicarakan sesuatu yang bersifat sesuatu, eh maaf (lagi) sesuatu yang bersifat ‘serius’ maksud saya. Jujur saja, saya tidak punya bahan untuk membicarakan sesuatu yang bersifat ‘serius’ itu. Dalam kesempatan ini saya ingin ngobrolin masalah bola saja, iya benar, Sepakbola bukan sempak bola.
Sumber gambar
Jika berbicara tentang sepakbola, tentu pembicaraan kita akan terarah menuju liga Eropa, sebut saja Liga Inggris, Liga Itali dan Liga Spanyol. Karena kenyataannya Negara-negara tersebut adalah jawara olahraga ini, bahkan tempat yang sangat menggairahkan bagi bisnis sepakbola dunia. Fondasi sepakbola mereka jauh melampaui kebudayaan kita sendiri, menejemen sepakbola dan kompetisi professional sudah berkembang pesat saat Bung Karno masih ngebacot masalah Nasionalisme dan Tan Malaka gontok-gontokan dengan Sutan Sjahrir. Maka, tak salah jika seorang kawan, sebut saja namanya Siddiq (bukan nama samaran) memajang poster CR9 a.k.a Cristiano Ronaldo, punggawa Tim Nasional Portugal dan Real Madrid, serta poster Klub Manchester United atau lumrah disebut MU, pertanyaannya, mengapa tidak memajang poster Firman Utina sang Kapten TIMNAS kita? Atau memajang poster PERSERA (Persatuan Sepakbola Sragen)? Jawabannya gampang saja, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sepakbola kita saat ini. Jadi, wajar saja anak-anak negeri ini lebih membanggakan bintang, klub bahkan Negara lain, dibandingkan Negara sendiri, INDONESIA. Piye iki, apa yang salah?

Nasionalisme dan Sepakbola
Sepakbola meski hanya sebuah olah raga biasa pada umumnya, ternyata memiliki nilai positif yang cukup besar dalam hal membangun sebuah persatuan, setidaknya begitu kesimpulan saya. Jika kita lihat perjalan sejarah perjuangan Negara ini, kita akan mendapatkan halaman khusus tentang sepakbola yang (mungkin) jarang didapati dalam lembaran sejarah perjuangan Negara lain.
Aksi perjuangan kemerdekaan Negara ini tidak melulu berbicara mengenai rapat raksasa, aksi massa, geriliya dan bambu runcing, pun tidak hanya melahirkan sosok soekarno-hatta, Pak Dirman dan I Gusti Ngurah Rai, sepakbola pun menjadi alat untuk memperjuangkan kemerdekaan di Negara ini. Rasa nasionalisme yang tinggi mendorong Soeratin Sosrosoegondo untuk membuat sebuah wadah yang menaungi anak-anak muda progresif revolusioner untuk berjuang melalui jalur sepakbola, wadah itu diberi nama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia yang dideklarasikan pada 19 April 1930 di Jogja. Menurut Asvi Warman Adam, motivasi Soeratin Sostrosoegondo mendirikan organisasi sepakbola itu adalah mewujudkan Sumpah Pemuda 1928 dengan berbasis nasionalisme sekaligus bagian dari proses penumbuhan integrasi nasional (Tempo, Rabu/23/2/2011)
Dengan semangat itu juga yang mendasari pola perjuangan PSSI, sekurangnya sampai decade 60-an. Pada masa itu, TIMNAS kita sangat disegani di level asia, sejarah pernah mencatat, Arsenal tersungkur di Gelora 10 November, generasi TIMNAS pada zaman itu pernah mencicipi putaran final olimpiade Melbroune tahun 1956. Alhasil, TIMNAS kita dijuluki ‘Macan Asia’ yang sempat merajai kancah persepakbolaan Asia.
Sepakbola adalah olah raga massa yang bersifat massal, kerena perlengkapannya cukup sederhana, mudah didapat dan murah tapi dapat melibatkan banyak orang untuk bermain. Inilah salah satu kelebihan dari olah raga ini. Dengan bermodal bola dan tanah lapang, kita bisa mengerahkan banyak taktik dan kerjasama yang solid.
Kampung yang memiliki tanah lapang, setiap sorenya hari bisa dipastikan kita melihat si kulit bundar sedang digocek pemain. Demikian juga di dalam kampus, sore hari merupakan waktu yang tepat untuk melihat dan bermain sepakbola. Di lapangan kampus, parkiran, taman bahkan jalan menjadi sasaran bagi mahasiswa untuk memenuhi hasrat terhadap hobi ini. Berdasarkan dari keumuman yang terjadi, sektor Pemuda Mahasiswa dengan sepakbola sangat erat hubunganya, tidak hanya hobi untuk memainkannya.
Liga Indonesia, rata-rata suporter fanatiknya adalah pemuda. Sebut saja Aremania Malang, The Jakmania Jakarta, Bonek Surabaya, Bobotoh Bandung, The Maczman Makasar dan beberapa tempat penggila bola lainnya seperti Medan hingga Papua. Rata-rata para suporter fanatik tersebut dipimpin dan didominasi oleh para pemuda. Kemanapun tim kesayangannya tampil, disanalah para pemuda sorak sorai memberikan dukungannya. Bisa kita bayangkan berapa juta energi para pemuda dan Mahasiswa yang tertumpah pada si kulit bundar. Meraka tidak hanya melulu bisa meneriakan yel-yel pembangkit semangat kesebesalasannya, mereka juga biasa mengadakan kegiatan-kegiatan social yang sangat dibutuhkan oleh rakyat, sungguh suatu kekuatan yang luar biasa untuk kemajuan Negara ini.
Jelasnya, dalam sepakbola, kita bisa mengaplikasikan taktik dan strategi guna meraih kemenangan, persatuan mutlak dibutuhkan, tanpa adanya persatuan, mustahil bisa meraih kemenangan. Pemuda-mahasiswa dapat menyalurkan energy ‘berlebih’-nya melalui hal positif ini. Pemuda, nasionalisme dan bola adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kabut Gelap Sepakbola Indonesia
Belum lekang dalam ingatan kita (kita? Loe aja kalee!), TIMNAS Indonesia berlaga dalam hajatan besar, piala AFF (dulu piala tiger), TIMNAS Indonesia gagal menjuarai hajatan tersebut meski dihelat di rumah sendiri. Saya belum lupa, bagaimana TIMNAS Indonesia dipecundangi Malaysia dengan skor telak 3-0 di stadion Bukit Jalil, meski menang pada laga berikutnya, tak mampu membawa TIMNAS kita menjadi juara. Setiap kali TIMNAS kita berlaga, rasa nasionalisme terhadap Negara pun menebal, tak ayal, TIMNAS kita selalau mendapatka dukungan yang luar biasa dari segenap komponen Negara ini. Gelora Bung Karno seketika bergelora dengan keriuhan sorak sorai supporter TIMNAS dan setiap mata memelototi televisi mulai dari ujung Sumatera sampai Papua. Sorak sorai, makian, teriakan kegembiraan maupun kekecewaan membahana dari segenap penjuru negeri ini. Namun, dibalik antusiasme rakyat Indonesia yang mendukung kesebelasannya, TIMNAS Indonesia belum mampu mempersembahakan prestasi yang membanggakan bagi rakyat Indonesia. Jangankan berbicara pada level dunia, level Asia Tenggara saja TIMNAS Indonesia masih terseok-seok. Macan Asia itu kini menjadi Macan Ompong.
Sebenarnya apa sih yang menjadi permasalahan sepakbola Indonesia? Banyak pengamat, pemerhati serta praktisi sepakbola yang menyematkan bobroknya prestasi TIMNAS Indonesia kepada PSSI yang digawangi oleh nurdin halid. Berbagai pandangan miring tentang PSSI sudah menjadi rahasia umum. Prestasi yang memalukan dan kekalahan demi kekalahan terus menghiasi TIMNAS kita. Grafik negatif sepakbola nasional tidak bisa dilepaskan dari pembinaan yang kacau, suap dan kerusuhan yang terjadi di liga Indonesia, perebutan kekuasaan ditubuh PSSI sampai Ketua yang dipenjara merupakan beberapa persoalan dari sekian banyak karut-marutnya lembaga ini. Bagaimana mungkin kemajuan PSSI terjadi kalau orang nomor satunya atau ketua jelas-jelas seorang Koruptor dan masih tetap diberi kepercayaan untuk memimpin ketika dalam penjara. Kenyataan tersebut mejelaskan bahwa PSSI tidak dipimpin oleh seseorang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan sepakbola di negeri ini.

‘Industrialisasi’ Sepakbola
Dalam kongres PSSI di Bali bulan lalu, NH menyampaikan pidato pembukaan yang berjudul ‘Sepakbola Politik menuju Sepakbola Industri’, garis besarnya, NH ingin me-reformasi sepakbola Indonesia yang dulunya berorientasi politik menuju sepakbola yang berorientasi pada industry. Ternyata apa yang diucapkannya bukan hanya omong kosong tetapi benar diaplikasikan dalam orientasi sepakbola Indonesia kini. Cobalah ente tengok, PSSI dijadikan sebagai ‘ATM’ oleh NH cs, telah diketahui secara jelas, kompetisi (liga Indonesia) kita yang dihelat hanya sebagai ajang pertaruhan nama daerah, Liga Indonesia mayoritas diikuti oleh perserikatan sepakbola daerah yang mendapat kucuran dana tidak sedikit dari pemerintah daerah, kucuran dana dari pemda tersebut menjadi lahan korupsi pengurus PSSI. Mencuat selentingan, NH CS disogok oleh salah satu klub dari Kalimantan (PERSISAM Putra Samarinda) untuk meloloskan klub tersebut berlaga dalam Liga Super (ancur) Indonesia. Kucuran dana berlebih dari pemda untuk klub yang berlaga di LSI membuat ngiler pengurus PSSI, gak salah kalau mereka mempertahankan kursi empuk pengurus PSSI, atas dasar itulah NH berhasil merubah orientasi sepakbola Indonesia menjadi sepakbola industry, industry pribadi yang menjadi mesin pencetak duit untuk NH dan kroninya. ente berhasil, Nurdin!

Politisasi Sepakbola
Selain masalah korupsi, politisasi sepakbola merebak sejak PSSI ditangani oleh NH, coba ente amati, pengurus PSSI dari tingkat daerah sampai pusat didominasi oleh komplotan ‘sempak kuning’, makanya selama 8 tahun NH bisa mempertahankan posisinya sebagai ketua PSSI meski nihil prestasi!
TIMNAS Indonesia dijual murah demi pencitraan komplotan ‘sempak kuning’, bagaimana ketika TIMNAS Indonesia sedang focus menghadapi perhelatan besar piala AFF, digiring untuk meraih simpati dan popularitas komplotan ‘sempak kuning’, tak ayal, intrik ini menuai protes dari komplotan-komplotan lain yang tak kebagian jatah momen pencitraan, sebut saja komplotan ‘sempak biru’ yang bereaksi cukup keras menentang politisasi PSSI dan TIMNAS. Yang paling mutakhir, tentang suksesi di tubuh PSSI menjadi rebutan komplotan-komplotan rampok untuk meraih simpati supporter, perpecahan pun tak terelakan. Komplotan ‘sempak kuning’ mendukung status quo yang (bukan) kebetulan adalah juga sebagai kader militan komplotan ‘sempak kuning’, komplotan ‘sempak merah’ mengirimkan kader seniornya untuk menggantikan kader ‘sempak kuning’ yang mereka anggap tidak becus memimpin PSSI, ‘sempak biru’ masuk lewat jalur lain, mencoba memposisikan sebagai komplotan yang mendukung reformasi PSSI melalui kadernya yang duduk sebagai MENEGPORA, trik-nya, merendahkan diri untuk menaikkan mutu. Sungguh lakon yang sangat menjijikkan. Mungkin Bonek Mania masih geram jika mengingat liga Indonesia musim lalu, bagaimana tidak, PERSEBAYA dipaksa degradasi hanya untuk menyelematkan klub PELITA JAYA PURWAKARTA agar tidak terdegradasi. PERSEBAYA mensinyalir ada permainan dalam kasus itu, PELITA JAYA yang notabene milik Nirwan Dermawan Bakri (salah seorang pengurus pusat PSSI) adalah adik kandung dedengkot komplotan ‘sempak kuning’, kalau sudah seperti itu, siapa yang tidak mensinyalir sebagai keputusan yang tidak sportif? Mbah saya aja bilang bilang itu keputusan politis!

Pornoaksi, eh Provokasi!
'football without supporters is life without sex,' ujar Jock Stein, legenda sepakbola asal Skotlandia yang memahami betul arti pentingnya pendukung dan pemonton bagi timnya. Berikan supporter sepakbola Indonesia akses seluas-luasnya untuk memajukan sepakbola Indonesia, apalah artinya sepakbola tanpa supporter. Jangan pernah menyalahkan prilaku supporter, semestinya PSSI ngaca dulu, supporter adalah bagian dari sepakbola, sepakbola tidak bisa dipisahkan dari supporter. Sepakbola akan mati tanpa supporter, supporter tak kan pernah lahir tanpa adanya sepakbola. Sepakbola sebuah Negara di-asosiasikan kepada sebuah lembaga, sebut saja PSSI, jika PSSI-nya buruk, maka semua yang ada dalam lembaga itu akan menjadi buruk; kompetisinya, TIMNASnya, fasilitasnya bahkan supporternya! So, jangan salahkan supporter. :D
Sudah saatnya PSSI berbenah diri. Pimbinaan para pemain muda dan Kompetisi liga yang sportif serta manejemen yang mantap adalah ‘PR’ yang harus segera dibenahi oleh induk sepakbola negeri ini. Kepemimpinan yang bersih dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap sepakbola juga menjadi sasaran yang harus dibetulkan. PSSI harus tegas terhadap pimpinan yang tidak benar. Pimpinan tidak hanya para pejabat atau pengusaha yang hanya numpang nama, tapi benar-benar harus dipilih pimpinan yang mengerti dan memahami suara para penggiat bola, tetapi itu sulit dilaksanakan jika NURDIN HALID dan komplotannya masih menguasai PSSI, turunkan dulu NURDIN, kembalikan PSSI kepada penggiat bola (supporter, pemain, pelatih dan pencinta bola) berikan mereka kesempatan untuk menentukan arah tujuan sepakbola Indonesia. Disinilah bumi sepakbola Indonesia diuji pendirian dan keberpihakannya terhadap para penggemarnya.
LALU, KAPAN KITA MAEN BOLA?


“Sudahkah kita melindungi, menyayangi dan menjaga kecintaan kita yang bernama sepakbola?”
Jogja, 26 Februari 2011
-makalah untuk diskusi rutin Forum Tanpa Kelas CEMARA-

80 komentar:

  1. hmmmmm.....entah sampai kapan kemelut seperti ini akan terjadi...

    BalasHapus
  2. saya sih hanya bisa berharap semoga persepakbolaan kita segera pulih, lalu bangkit jadi raksasa asia

    BalasHapus
  3. Amin, Tapi yg dirubah orang2nya dulu
    Disiplinnya kan,,,
    Semoga bisa Amin

    BalasHapus
  4. Amin, semoga yang terbaik aja yaa, keep posting

    BalasHapus
  5. Menyedihkan melihat persepakbolaan Indonesia saat ini, semoga setelah ini ada perubahn...bravo sepakbola Indonesia...

    BalasHapus
  6. Thanks infonya, artikelnya menarik dan inspiratif semua, bagi nyubi seperti saya harus banyak belajar dari senior and master2 seperti salah satunya diblog ini.

    BalasHapus
  7. Yang penting Pucuk Pimpinannya bisa mengayomi anak buahnya dan bisa menjadi panutan yang baik.Insya Alloh semuanya akan berjalan dengan baik dan lancar

    BalasHapus
  8. memang persepakbolaan kita masih perlu banyak pembenahan di sana-sini, kita bisa mencontoh dari sikap profesionalisme kepengurusan persepakbolaan di manca negara khususnya eropa, dengan begitu semoga sepakbola kita dapat menunjukkan perkembangan yang signifikan

    BalasHapus
  9. Hahaha, mantepppp judulx gan,, pertamax.. !!!
    Emang ga jauh beda antara sempak bola ama sepak bola,, dah kluntang klantung ga jelas nasib persepakbolaan di negeri ini..
    Cayoooo... ^_^

    BalasHapus
  10. Materi postingnya udah cukup buat ngisi skripsi,pak. main bolanya, ditunggu dekat kampus,kapan bisanya??

    BalasHapus
  11. bahasan yang sangat bagus sangat sesuai dengan keadaan sekarang...he..he..

    BalasHapus
  12. ane jg bingung gan kenapa akhir2 ini sepakbola jd sering diberitakan di TV...

    BalasHapus
  13. moga aja sepak bola kita setelah kongres nanti jadi lebih baik dan dapet pimpinan yang bagus

    BalasHapus
  14. Hey great stuff, thank you for sharing this useful information and i will let know my friends as well.

    BalasHapus
  15. bro, puisinya kahlil gibran bagus banget tapi judulnya postingannya itu lo gak kuwat banget!hehehe
    Sip sip bro

    BalasHapus
  16. It is a technologically sound writing. If I hadn't read it, I wouldn't have more information about this The figures explain many things. Thanks a lot for this post.

    BalasHapus
  17. emang benar di buat bingung..mo di bawa kemana yach...
    semoga aja dapat jalan yang lebih baik demi kemajuan kita bersama...he..he..

    BalasHapus
  18. semoga Mr Nurdin tersadar.
    dan segera mengembalikan PSSI kepada penggiat sepakbola tanah air.

    BalasHapus
  19. beda banget sepak bola indonesia yang dulu dengan sekarang.kita semua berharap sama yaitu berharap persepakbolaan indonesia akan maju kembali.

    BalasHapus
  20. bedah huruf m pada judul postingan blog mas cukup menarik perhatian saya barusan.

    BalasHapus
  21. sempak terjang yang bagus sob!hehehe
    Oh ya mau skdar promosi blog dofollow nih buat kawan-kawan semua. http://sang-pecintablog.blogspot.com

    BalasHapus
  22. sepak bola kita ngak kan maju gan kalo pengurus persepak bolaan mata duitan....

    BalasHapus
  23. sepak bola indonesia hanya menang bualan aja...
    ngak maju kalo pengurus2nya ngak di ganti...

    BalasHapus
  24. yang terbaru: kongres PSSI di Pekanbaru ricuh..tambah prihatin nih

    BalasHapus
  25. kemelut di tubuh PSSInya aja belum bisa diatasi.
    lalu kpn timnas kita bisa menorehkan prestasi...

    BalasHapus
  26. bravo sepakbola ,,, persepakbolaan kita kurang kompak mas

    BalasHapus
  27. mudah-mudahan persepakbolaan kita kedepan semakin baik dan berprestasi,,,sukses

    BalasHapus
  28. halo mas Afif makasih ya dah mampir di blog saya, terus terang agak malu juga diliat puisi saya. I love this blog, too!

    BalasHapus
  29. Theme nya bagus...artikelnya menarik:)

    BalasHapus
  30. Judulnya mngundang orang untuk baca

    BalasHapus
  31. maju terus pesepak bola indonesia,,tunjukan semangatmu,,bangkitlah dari keadaan yang lagi membingungkan ini,,,

    BalasHapus
  32. indonesia kobarkan semangatmu ,kan ku bela hingga ahir nafasku,jangan pernah menyerah sudah terlalu lama kita terlelap,merah putih kan slalu dihati

    BalasHapus
  33. siip deh,,moga cepet kelar permasalahan di pssi

    BalasHapus
  34. Semua anak negeri tentunya ingin memasang gambar timnas mereka sendiri,manakala ada prestasi yang layak untuk di banggakan,simak saja ketika laga aff kemaren,bagaimana euforia masyarakat kita begitu memuncak,yang berdampak pada kecanduan bola seluruh lapisan masyarakat kita,semua itu akan kembali di rasakan ketika timnas di bawah pssi yang baru kelak bisa menunjukkan prestasi gemilang,semoga

    BalasHapus
  35. beda banget sepak bola indonesia yang dulu dengan sekarang.kita semua berharap sama yaitu berharap persepakbolaan indonesia akan maju kembali.

    BalasHapus
  36. saya tahu lasannya kenapa timnas dijual murah mas, sekadar untuk tujuan seseorang, tendensius? ga lah,

    BalasHapus
  37. judulnya lucu banget tapi tulisannya bagus

    BalasHapus
  38. iya mas afif sepakat dengan comment di atas judulnya agak aneh gitu,,, tapi tulisannya bagus.

    BalasHapus
  39. Haha Judul gak penting yang penting isi, cobak bayangin nama orang emmm anggap saja marbuka maaf yg pnya nama itu hehe.. tapi dia pinter dan kaya raya pasti disegani iya kan.
    janganlupakunjungi blog saya juga ya mas untuk downloadsoftware free license tiap hari di http://goblogyoyo.blogspot.com

    BalasHapus
  40. Sepakbola Indonesia R.I.P

    Salam Sepakbola,
    http://otodidakfotografi.blogspot.com/

    BalasHapus
  41. aku menginginkan iklim persebakbolaan yang nyaman.. kapan kita membantai musuh klo kita masih terus-terusan saling membantai diri sendiri

    BalasHapus
  42. sepakbola indonesia tidak akan pernah maju selama pssi tidak berubah yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok bukan kepentingan bangsa. semoga saja suatu saat kita memiliki timnas kebanggaan seperti negara lain...
    by foredi

    BalasHapus
  43. nice gan infonya..
    i like it

    BalasHapus
  44. aminnnn .. ane juga turut doain deh gan ;D

    BalasHapus
  45. thanks buat infonya,, sangat bermanfaat sekali

    http://goo.gl/BkceMq

    BalasHapus
  46. sebuah opini yang aku salut..klik.. http://bit.ly/2aFvVAJ

    BalasHapus
  47. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  48. Tapi menurut saya ya min. makin kesini pesepak bola di Indonesia malah semakin mantab dan membanggakan Indonesia sekali. Kita harus mendukung sepak bola Indonesia.

    BalasHapus