Maret 24, 2011

Ayah...

Sumber gambar
kerutan itu masih mampu ku eja
tak sempat ku meraba, menghiba
ingin ku cerap setiap kecewa
tak ingin menambah luka

desah berat itu kian terasa
tercekat diantara relung jiwa
ucapmu terbata tak tertata
tercekat dalam kata

buliran itu mendidih panas
mengalir di pelupuk kerut paras
hadir percik bias
menetes dihati kaku nan keras

Maret 01, 2011

Antara Sepak dan Sempak

“Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tak mengambil apapun kecuali dari dirinya sendiri…
cinta tiada memiliki pun tiada ingin dimilki: Karena cinta telah cukup bagi cinta”
(Kahlil Gibran)
Maaf, hari ini saya malas sekali untuk membicarakan sesuatu yang bersifat sesuatu, eh maaf (lagi) sesuatu yang bersifat ‘serius’ maksud saya. Jujur saja, saya tidak punya bahan untuk membicarakan sesuatu yang bersifat ‘serius’ itu. Dalam kesempatan ini saya ingin ngobrolin masalah bola saja, iya benar, Sepakbola bukan sempak bola.
Sumber gambar
Jika berbicara tentang sepakbola, tentu pembicaraan kita akan terarah menuju liga Eropa, sebut saja Liga Inggris, Liga Itali dan Liga Spanyol. Karena kenyataannya Negara-negara tersebut adalah jawara olahraga ini, bahkan tempat yang sangat menggairahkan bagi bisnis sepakbola dunia. Fondasi sepakbola mereka jauh melampaui kebudayaan kita sendiri, menejemen sepakbola dan kompetisi professional sudah berkembang pesat saat Bung Karno masih ngebacot masalah Nasionalisme dan Tan Malaka gontok-gontokan dengan Sutan Sjahrir. Maka, tak salah jika seorang kawan, sebut saja namanya Siddiq (bukan nama samaran) memajang poster CR9 a.k.a Cristiano Ronaldo, punggawa Tim Nasional Portugal dan Real Madrid, serta poster Klub Manchester United atau lumrah disebut MU, pertanyaannya, mengapa tidak memajang poster Firman Utina sang Kapten TIMNAS kita? Atau memajang poster PERSERA (Persatuan Sepakbola Sragen)? Jawabannya gampang saja, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sepakbola kita saat ini. Jadi, wajar saja anak-anak negeri ini lebih membanggakan bintang, klub bahkan Negara lain, dibandingkan Negara sendiri, INDONESIA. Piye iki, apa yang salah?